Beranda | Artikel
Nafsu, Kekayaan, dan Kehancuran Moral Manusia
9 jam lalu

Akhir-akhir ini, kita dikejutkan oleh terbongkarnya sebuah dokumen yang dikenal sebagai “Epstein files”. Dokumen itu memperlihatkan sisi gelap manusia ketika kekayaan, kekuasaan, dan akses terhadap kesenangan dunia berkumpul dalam satu tangan.

Terlepas dari benar valid atau tidaknya berita tersebut, kita benar-benar mendapatkan sebuah hikmah penting, bahwa orang-orang yang secara materi tidak kekurangan apa pun, mereka justru terjerumus dalam perilaku yang melampaui batas kemanusiaan dan moral. Peristiwa ini merupakan cermin tentang tabiat manusia ketika nafsu tidak lagi dikendalikan oleh iman.

Ironisnya, fenomena tersebut membuktikan bahwa kekayaan tidak selalu menghadirkan kebahagiaan. Bahkan, dalam banyak kasus, keberlimpahan justru membuka pintu bagi kerusakan yang lebih besar. Apa yang dulu dianggap mustahil atau menjijikkan, bisa berubah menjadi sesuatu yang dicari ketika hati kehilangan iman dan hidayah. Inilah realitas yang sejak lebih dari empat belas abad lalu telah diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ.

Sifat dasar manusia adalah tidak pernah merasa puas ketika hidup dikendalikan oleh hawa nafsu. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda,

لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati). Dan Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)

Oleh karenanya, kita mesti menyadari bahwa kita sangat membutuhkan petunjuk, hidayah, dan pertolongan Allah Ta’ala agar tidak terjerumus pada jurang kehinaan karena tak mampu mengendalikan hawa nafsu.

Nafsu tidak mengenal batas

Hawa nafsu memiliki kecenderungan untuk membawa manusia menjauh dari kebenaran. Nafsu tidak memiliki titik berhenti. Ia selalu menuntut lebih, lebih, dan lebih. Ketika satu keinginan terpenuhi, keinginan berikutnya segera muncul.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ

Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)

Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini tampak jelas. Seseorang yang telah memiliki pasangan bisa tergoda mencari yang lain. Ketika perselingkuhan menjadi kebiasaan, standar moral mulai bergeser. Apa yang dahulu dianggap dosa besar, perlahan menjadi terasa biasa. Inilah cara nafsu bekerja: mengikis rasa takut kepada Allah sedikit demi sedikit.

Ketahuilah bahwa mengikuti syahwat terasa mudah dan menyenangkan, tetapi ujungnya adalah kebinasaan. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.” (HR. Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Kekayaan tidak menjamin ketenteraman

Saudaraku, ketenangan tidak berasal dari kekayaan atau kenikmatan dunia. Harta hanya alat, bukan sumber kebahagiaan. Jika hati kosong dari iman, sebanyak apa pun kenikmatan dunia pasti tidak akan terasa cukup.

Allah Ta’ala berfirman,

أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Sejarah manusia berulang kali menunjukkan pola yang sama. Orang yang memiliki kekuasaan dan harta melimpah seringkali justru jatuh dalam kerusakan moral yang dalam dan bahkan sangat mengerikan. Ini bukan karena kekayaan itu buruk, tetapi karena hati yang tidak terisi iman akan mencari kepuasan di tempat yang salah.

Rasulullah ﷺ bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun. kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Inilah konsep qana’ah dalam Islam, yaitu rasa cukup yang lahir dari iman, bukan dari jumlah harta. Maka kita butuh ilmu agar mampu mengendalikan diri untuk kemudian menjadi qana’ah atas pemberian dan anugerah dari Allah Ta’ala dengan tanpa mengesampingkan ikhtiar. Sebab dengan ilmu agama -merutinkan diri menghadiri kajian Islam guna menambah ilmu tentang agama mulia ini- kita menjadi hamba Allah Ta’ala yang tidak mudah terpedaya oleh hawa nafsu dan godaan setan. Insyaa Allah.

Baca juga: Hakikat Kekayaan yang Sebenarnya

Normalisasi dosa dan kerusakan hati

Dosa yang dilakukan berulang kali akan mengeraskan hati. Ketika hati mengeras, sensitivitas terhadap kebenaran berkurang. Perbuatan yang dahulu terasa salah bisa berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Rasulullah ﷺ bersabda,

Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat, niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan shahih oleh Tirmidzi)

Proses ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia dimulai dari dosa kecil yang diremehkan, kemudian menjadi kebiasaan, lalu berkembang menjadi perilaku yang lebih besar. Setan menghiasinya sehingga tampak wajar karena dosa telah menutupi hatinya. Ia pun sulit menerima nasihat.

Allah Ta’ala berfirman,

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)

Mengendalikan nafsu adalah jalan keselamatan

Islam tidak mengajarkan untuk mematikan keinginan manusia, tetapi mengendalikannya. Nafsu harus dipimpin oleh iman, bukan sebaliknya. Tanpa kendali, nafsu akan menyeret manusia ke dalam kehinaan.

Allah berfirman,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ

فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ

“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)

Salah satu cara melatih pengendalian diri adalah ibadah. Puasa, salat, dan sedekah bukan hanya ritual, tetapi sarana pendidikan jiwa. Ibadah melatih manusia mengatakan “tidak” kepada keinginan yang tidak diridai Allah.

Kekuatan sejati adalah kemampuan mengendalikan diri dari setiap celah godaan setan dan hawa nafsu yang selalu mendorong kita kepada perbuatan yang melanggar syariat Allah Ta’ala. Maka, orang yang mampu mengendalikan diri tersebut, itulah orang yang kuat dalam pandangan Islam. Rasulullah ﷺ bersabda,

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Saudaraku, kisah manusia yang tenggelam dalam syahwat meski memiliki segalanya mengingatkan kita bahwa masalah terbesar manusia bukanlah kemiskinan, tetapi hati yang kosong dari iman. Nafsu yang tidak dikendalikan akan terus menuntut hingga menyeret manusia pada kehancuran, baik di dunia maupun di akhirat.

Oleh karena itu, pelajaran terpenting dari hadis tentang “lembah emas” adalah bahwa kebahagiaan tidak terletak pada memiliki materi lebih banyak, tetapi pada hati yang merasa cukup dan takut kepada Allah Ta’ala. Ketika iman menjadi pusat hidup, keinginan dunia akan berada pada tempatnya, dan manusia akan menemukan ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh kekayaan apa pun. Wallahu a’lam.

Baca juga: Hawa Nafsu, Lawan atau Kawan?

*** 

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Muslim.or.id


Artikel asli: https://muslim.or.id/113985-nafsu-kekayaan-dan-kehancuran-moral-manusia.html